Tampilkan postingan dengan label Info Terbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Terbaru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2016

Syarat Bunga Dan Tabel Angsuran BRI Terbaru Tahun 2016

Syarat bunga dan tabel angsuran BRI terbaru – Bank Rakyat Indonesia atau Bank BRI merupakan bank yang menjadi milik pemerintah dan menjadi bank terbesar milik pemerintah pertama. Awalnya bank ini didirikan di daerah Purwokerto. Dari awal pendiriannya sampai dengan tahun 2016 ini BRI selalu konsisten dalam melayani masyarakat kalangan ekonomi rendah. Hal itu terbukti dengan banyaknya fasilitas yang diberikan oleh BRI dalam membantu golongan masyarakat ekonomi kelas rendah.



Fasilitas yang diberikan oleh pihak Bank BRI salah satunya adalah fasilitas pemberian kredit terhadap wirausaha golongan kecil. Pelayanan yang diberikan tersebut bisa terlihat dari banyaknya program pemberian kredit bagi wirausaha golongan kecil misalnya saja Kredit Usaha Kecil atau KUK pada tahun 1994. Tidak tanggung tanggung total kredit yang diberikan sebesar 6,14 milyar rupiah. Pemberian jumlah kredit itu semakin bertambah dan meningkat seiring dengan bertambahnya tahun. Missalnya saja di tahun 1995 kredit yang diberikan meningkat sampai dengan 8 milyar rupiah dan tahun 1999 bisa mencapai 20 miyar rupiah. Simak syarat bunga dan tabel angsuran BRI terbaru berikut ini :

Syarat Pengajuan Pinjaman BRI

Sebelum mengajukan pinjaman alangkah baiknya jika nasabah yang ingin mengajukan kredit membaca persyaratan yang diberlakukan oleh pihak Bank BRI. Syarat bunga dan tabel angsuran BRI terbaruwajid diketahui oleh para nasabah yang ingin mengajukan kredit. Alasannya dari tabel itu nasabah bisa berfikir secara matang akan pinjaman yang nantinya akan diajukan ke bank termasuk angsuran setiap bulannya. Berkut ini adalah syarat yang harus dipenuhi oleh nasabah yang ingin mengajukan pinjaman atau kredit ke Bank BRI :

WNI dan tinggal di Indonesia.
Nasabah memiliki penghasilan tetap dengan minimal masa kerja 2 tahun lamanya.
Jumlah penghasilan yang bisa mengajukan kredit adalah minimal 2 juta per bulannya.
Usia nasabah minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun bagi karyawan. Untuk pengusaha usia maksimalnya adalah 60 tahun dimana usia 60 tahun tersebut kredit dan cicilannya harus lunas.
Formulir untuk syarat administrasi pun dibutuhkan, formulir yang dibutuhkan adalah fotokopi dari semua formulir yang dbutuhkan.  Formulir yang dibutuhkan adalah KTP, KK / Kartu Keluarga, buku tabungan BRI, karip bagi pensiunan.
Formulir asli artinya tidak difotokopi. Formulir itu diantaranya adalah surat pernyataan debitur, surat rekomendasi dari atasan, surat kuasa debet rekening, surat kuasa potong gaji atau pensiun, slip gaji terakhir,  surat keputusan asli.

Bunga Pinjaman BRI

Yang harus diperhatikan dalam bunga ini adalah tergantung dengan berapa lama angsuran tersebut akan dicicil. Misalnya saja adalah semakin lama nasabah melunasi atau mencicil kreditnya maka bunga yang diterapkan pun semakin besar, berbeda dengan kredit yang akan diangsur dalam waktu satu tahun saja dimana bunganya hanya kecil.  Bunga yang diberlakukan oeh Bank BRI sebesar 1.025 persen bisa sampai dengan 1,2 persen.

Tabel Angsuran Bank BRI

Sebelum meminjam uang ke bank sebaiknya nasabah mengetahui berapa nominal uang yang dibutuhkan dan berapa jumlah angsuran yang harus ditanggung tiap bulannya. Berikut ini adalah daftar angsuran BRI terbaru yang disajikan dalam tabel :

Pinjaman Pokok
Bunga
Jangka Waktu
1 Tahun
1, 5 Tahun
2 Tahun
3 Tahun
4 Tahun
5 Tahun
Rp    1.000.000
 1, 025%
Rp        93.600
Rp       65.800
Rp      51.900
Rp    38.028
Rp    31.083
Rp    26.917
Rp    2.000.000
 1, 025%
Rp     187.200
Rp    131.600
Rp    103.800
Rp    76.056
Rp    62.167
Rp    53.833
Rp    3.000.000
 1, 025%
Rp     280.800
Rp    197.400
Rp    155.800
Rp  114.083
Rp    93.250
Rp    80.750
Rp    4.000.000
 1, 025%
Rp     374.300
Rp    263.200
Rp    207.700
Rp  152.100
Rp  124.333
Rp  107.667
Rp    5.000.000
 1, 025%
Rp     467.900
Rp    329.000
Rp    259.600
Rp  190.139
Rp  155.417
Rp  134.583
Rp    6.000.000
 1, 025%
Rp     561.500
Rp    394.800
Rp    311.500
Rp  228.167
Rp  186.500
Rp  161.500
Rp    7.000.000
 1, 025%
Rp     655.100
Rp    460.600
Rp    363.400
Rp  266.194
Rp  217.583
Rp  188.417
Rp    8.000.000
 1, 025%
Rp     748.700
Rp    526.400
Rp    415.300
Rp  304.222
Rp  248.667
Rp  215.333
Rp    9.000.000
 1, 025%
Rp     842.300
Rp    592.300
Rp    467.300
Rp  342.250
Rp  279.750
Rp  242.250
Rp  10.000.000
 1, 025%
Rp     935.800
Rp    658.100
Rp    519.200
Rp  380.300
Rp  310.833
Rp  269.083
Rp  11.000.000
 1, 025%
Rp  1.029.400
Rp    723.900
Rp    571.100
Rp  418.300
Rp  341.917
Rp  296.083
Rp  12.000.000
 1, 025%
Rp  1.123.300
Rp    789.700
Rp    623.000
Rp  456.300
Rp  373.000
Rp  323.000
Rp  13.000.000
 1, 025%
Rp  1.216.600
Rp    855.500
Rp    674.900
Rp  494.400
Rp  404.083
Rp  349.917
Rp  14.000.000
 1, 025%
Rp  1.310.200
Rp    921.300
Rp    726.800
Rp  532.400
Rp  435.167
Rp  376.833
Rp  15.000.000
 1, 025%
Rp  1.403.800
Rp    987.100
Rp    778.800
Rp  570.400
Rp  466.250
Rp  403.750


Mempertimbangkan baik baik berapa jumlah pinjaman pokok yang akan diajukannya adalah hal bijak sebelum mengambil kredit. Dengan melihat syarat bunga dan tabel angsuran BRI terbaru diatas semoga bisa membantu dalam menentukan besarnya pinjaman pokok yang akan diambil.

Senin, 28 Maret 2016

Teroris Santoso | Info Lengkap KLIK



POSO
 - Pasukan dari Batalyon 303/Raider mengepung Hutan Pegunungan Torire untuk memburu teroris Santoso yang diduga bermukim di wilayah tersebut. Keberadaan kelompok Santoso diduga kuat berada di wilayah hutan pegunungan tersebut.


Satuan TNI berkualifikasi Raider ini terlihat berjaga di sebuah jembatan di Desa Torire, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.  

Pasukan yang bermarkas di Cikajang, Garut Jawa Barat ini diterjunkan dalam Operasi Tinombala 2016 untuk memperkuat personel Yonif 714/Sintuwu Marosso yang berada di Desa Torire, Poso.
  
Desa yang memiliki populasi penduduk 130 keluarga inilah yang kini menjadi konsentrasi keberadaan aparat TNI/Polri dalam perburuan kelompok teroris Santoso. 

Menurut Kepala Operasi Daerah Tinombala 2016 Kombes Pol Leo Bona Lubis, ketatnya pengamanan di Desa Torire ini dilakukan diantara upaya pengepungan terhadap kelompok teroris Santoso dalam Operasi Tinombala 2016

“Sebagian besar pasukan TNI Polri yang bertugas melakukan pengepungan ditempatkan di dalam kawasan hutan serta kawasan perkebunan masyarakat, “ kata Leo Bona Lubis, Jumat (11/3/2016). 

Pada awal Maret 2016 ini, kata Leno Bona, pasukan gabungan TNI/Polri telah berhasil menggiring kelompok Santoso keluar dari hutan pegunungan yang mereka kuasai di wilayah Poso pesisir baik di pesisir utara maupun selatan.

Namun, kata dia, upaya pengepungan terhadap kelompok Santoso di Hutan Pegunungan Desa Torire sejauh ini belum berhasil menangkap dedengkot teroris tersebut. 

"Beratnya medan hutan pegunungan di wilayah Kabupaten Poso membuat upaya pengejaran terhadap kelompok Santoso masih sulit dilakukan," tandasnya.

Sabtu, 26 Maret 2016

Kumpulan Puisi Kemerdekaan RI [ Terbaru ]


KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI
Karya: Taufik Ismail

Tidak Ada Pilihan Lain
Kita Harus
Berjalan Terus
Karena Berhenti Atau Mundur
Berarti Hancur
Apakah Akan Kita Jual Keyakinan Kita
Dalam Pengabdian Tanpa Harga
Akan Maukah Kita Duduk Satu Meja
Dengan Para Pembunuh Tahun Yang Lalu
Dalam Setiap Kalimat Yang Berakhiran
“Duli Tuanku ?”
Tidak Ada Lagi Pilihan Lain
Kita Harus
Berjalan Terus
Kita Adalah Manusia Bermata Sayu, Yang Di Tepi Jalan
Mengacungkan Tangan Untuk Oplet Dan Bus Yang Penuh
Kita Adalah Berpuluh Juta Yang Bertahun Hidup Sengsara
Dipukul Banjir, Gunung Api, Kutuk Dan Hama
Dan Bertanya-Tanya Inikah Yang Namanya Merdeka
Kita Yang Tidak Punya Kepentingan Dengan Seribu Slogan
Dan Seribu Pengeras Suara Yang Hampa Suara
Tidak Ada Lagi Pilihan Lain
Kita Harus
Berjalan Terus.

Nusantara Merdeka
Syukur……..
Kupanjatkan Padamu Tuhan
Terimakasih….
Kuucapkan Padamu Pahlawan Negeri
Berkatmu…..
Negera Merdeka
Bebas Dari Para Penjajah
Yang Ingin Membumihanguskan Indonesia
Kau Berjuan Dengan Jiwa Dan Raga
Menyerukan Kata-Kata Penuh Semangat
Berjuang Hanya Denagan Sebatang Bambu
Namun Bukan Sembarang Bambu Yang Diraut Runcing
Inilah….
Semangat Patriotisme
Bersatu Padu Mengusir Penjajah
Demi Berkibarnya Sang Merah Putih
Kau Pergi Menelusuri Pelosok Negeri
Relakan Nyawa Dan Kehidupan Didunia
Demi Berdirinya Sang Garuda
Kini Kau Telah Tiada
Namun Perjuanganmu Tak Telupakan
Kini Kau Tenang Dialam Sana
Kamilah Yang Akan Melanjutkan Cita-Cita Sucimu
Semangat Bagai Kobaran Api
Selalu Ada Dihati Penerusmu
Saat Kau Kembali Kepangkuannya
Kau Bawa Sejuta Kebanggaan Di Hati



UNTUK IBU PERTIWI
Karya: Adhi Jaka Wahana

Bukit-Bukit Di Negeriku Ini Tenggelam Oleh Darah Dan Air Mata
Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh Seorang Anaknya Yang Merantau?
Untuk Masyarakatnya Yang Sengsara?
Apa Pula Gunanya Keluh Kesah
Seorang Penyair Yang Sedang Tidak Dirumah?
Seandainya Rakyatku Mati Dalam Pemberontakan Menuntut Nasibnya,
Aku Akan Berkata “Mati Dalam Perjuganan Lebih Mulia Dari Hidup Dalam Penindasan”
Tapi Rakyatku Tidak Mati Sebagai Pemberontak
Kematian Adalah Satu-Satunya Penyelamat Mereka,
Dan Penderitaan Adalah Tanah Air Mereka
Ingatlah Saudaraku,
Bahwa Syiling Yang Kau Jatuhkan
Ke Telapak Tangan Yang Menghulur Dihadapanmu,
Adalah Satu-Satunya Jembatan Yang Menghubungkan
Kekayaan Hatimu Dengan Cinta Di Hati Tuhan.
Karya Kahlil Gibran
Kemerdekaan
Sauh Riuh Lantang Bergema
Titik Akhir Hilirnya Asa
Gema Menyusup Ke Nadi-Nadi
Menggenggam Asa Baru, Lahirnya Sebuah Negeri
Terperanjak Haru Tulang Belulang
Meski Jauh Di Dalam Bumi Yang Ayu
Hai Anak Dan Cucu-Cucuku
Kini Aku Tak Merasa Menjadi Sia
Bukan Apa Atau Apa Yang Di Pinta
Pernah Lebih Dulu Sebenarnya Aku Ada
Melayang Tak Tampak Putih Bak Berkabut
Ku Kawal Hingga Akhir Lantangnya Engkau Bergema
Kan Kembali Aku Dalam Saf-Safku
Meski Tak Tentu Mana Pangkal Dan Ujungku
Tenang Kembali Dalam Bumi Ayuku
Tebar Bunga Dan Do’a Menjadi Piagamku



PAHLAWANKU
Puisi: Nindita Kusumawati

Oh Pahlawanku
Kau Sangat Berjasa Dan Setia Pada Negeri Ini
Kau Telah Pertaruhkan Jiwa Ragamu
Demi Indonesia Ini
Sampai Titik Darah Penghabisanmu
Lihatlah Oh Pahlawanku
Perjuanganmu Tak Ternilai Harganya
Tak Peduli Darahmu Terus Mengalir
Karena Kau Tak Tega
Melihat Beribu Pasang Mata
Yang Tersiksa Dan Menderita
Semangatmu Tak Mengenal Putus Asa
Tak Hanya Setinggi Tiang
Bendera Merah Putih Saja
Merahnya Menggambarkan Semangat
Yang Terus Membara
Putihnya Menunjukkan Hati
Yang Bersih Nan Suci
Bagaikan Sutra Putih Yang Lembut Dan Wangi
Tapi Sekarang Kau Telah Gugur
Dalam Medan Perang
Namun Semangatmu Tuk Merdeka Tak Pernah Hilang
Sayang Beribu Kali Sayang
Engkau Yang Dulu Berjuang
Kini Telah Tiada
Ku Harap Kau Bisa Tenang Di Atas Sana
Kini Hanyalah Doa
Yang Bisa Ku Beri Untukmu
Sekali Lagi Terima Kasih Pahlawanku



HARI KEMERDEKAAN
Oleh : Supardi Djoko Damono

Akhirnya Tak Terlawan Olehku
Tumpah Dimataku, Dimata Sahabat-Sahabatku
Ke Hati Kita Semua
Bendera-Bendera Dan Bendera-Bendera
Bendera Kebangsaanku
Aku Menyerah Kepada Kebanggan Lembut
Tergenggam Satu Hal Dan Kukenal

Tanah Dimana Kuberpijak Berderak
Awan Bertebaran Saling Memburu
Angin Meniupkan Kehangatan Bertanah Air
Semat Getir Yang Menikam Berkali
Makin Samar
Mencapai Puncak Kepecahnya Bunga Api
Pecahnya Kehidupan Kegirangan

Menjelang Subuh Aku Sendiri
Jauh Dari Tumpahan Keriangan Dilembah
Memandangi Tepian Laut
Tetapi Aku Menggengam Yang Lebih Berharga
Dalam Kelam Kulihat Wajah Kebangsaanku
Makin Bercahaya Makin Bercahaya
Dan Fajar Mulai Kemerahan



MENATAP MERAH PUTIH
Oleh : Supardi Djoko Damono

Menatap Merah Putih
Melambai Dan Menari – Nari Di Angkasa
Kibarannya Telah Banyak Menelan Korban
Nyawa Dan Harta Benda
Berkibarnya Merah Putih
Yang Menjulang Tinggi Di Angkasa

Selalu Teriring Senandung Lagu Indonesia Raya
Dan Tetesan Air Mata
Dulu, Ketika Masa Perjuangan Pergerakan Kemerdekaan
Untuk Mengibarkan Merah Putih
Harus Diawali Dengan Pertumpahan Darah
Pejuang Yang Tak Pernah Merasa Lelah
Untuk Berteriak : Merdeka!

Menatap
Merah Putih Adalah Perlawanan Melawan Angkara Murka
Membinasakan Penidas Dari Negeri Tercinta
Indonesia

Menatap
Merah Putih Adalah Bergolaknya Darah
Demi Membela Kebenaran Dan Azasi Manusia
Menumpas Segala Penjajahan
Di Atas Bumi Pertiwi

Menatap
Merah Putih Adalah Kebebasan
Yang Musti Dijaga Dan Dibela
Kibarannya Di Angkasa Raya

Berkibarlah Terus Merah Putihku
Dalam Kemenangan Dan Kedamaian



DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN
Oleh : Taufik Ismail

"Ibu Telah Merelakan Kalian
Untuk Berangkat Demonstrasi
Karena Kalian Pergi Menyempurnakan
Kemerdekaan Negeri Ini"

Ya, Ibu Tahu, Mereka Tidak Menggunakan Gada
Atau Gas Airmata
Tapi Langsung Peluru Tajam
Tapi Itulah Yang Dihadapi
Ayah Kalian Almarhum
Delapan Belas Tahun Yang Lalu

Pergilah Pergi, Setiap Pagi
Setelah Dahi Dan Pipi Kalian
Ibu Ciumi
Mungkin Ini Pelukan Penghabisan
(Ibu Itu Menyeka Sudut Matanya)

Tapi Ingatlah, Sekali Lagi
Jika Logam Itu Memang Memuat Nama Kalian
(Ibu Itu Tersedu Sedan)

Ibu Relakan
Tapi Jangan Di Saat Terakhir
Kau Teriakkan Kebencian
Atau Dendam Kesumat
Pada Seseorang
Walapun Betapa Zalimnya
Orang Itu

Niatkanlah Menegakkan Kalimah Allah
Di Atas Bumi Kita Ini
Sebelum Kalian Melangkah Setiap Pagi
Sunyi Dari Dendam Dan Kebencian
Kemudian Lafazkan Kesaksian Pada Tuhan
Serta Rasul Kita Yang Tercinta

Pergilah Pergi
Iwan, Ida Dan Hadi
Pergilah Pergi
Pagi Ini

(Mereka Telah Berpamitan Dengan Ibu Dicinta
Beberapa Saat Tangannya Meraba Rambut Mereka
Dan Berangkatlah Mereka Bertiga
Tanpa Menoleh Lagi, Tanpa Kata-Kata)



ATAS KEMERDEKAAN 
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Kita Berkata : Jadilah 
Dan Kemerdekaan Pun Jadilah Bagai Laut 
Di Atasnya : Langit Dan Badai Tak Henti-Henti 
Di Tepinya Cakrawala 
Terjerat Juga Akhirnya 
Kita, Kemudian Adalah Sibuk 
Mengusut Rahasia Angka-Angka 
Sebelum Hari Yang Ketujuh Tiba 
Sebelum Kita Ciptakan Pula Firdaus 
Dari Segenap Mimpi Kita 
Sementara Seekor Ular Melilit Pohon Itu : 
Inilah Kemerdekaan Itu, Nikmatkanlah



SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH
Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah Jaket Berlumur Darah
Kami Semua Telah Menatapmu
Telah Berbagi Duka Yang Agung
Dalam Kepedihan Berahun-Tahun

Sebuah Sungai Membatasi Kita
Di Bawah Terik Matahari Jakarta
Antara Kebebasan Dan Penindasan
Berlapis Senjata Dan Sangkur Baja

Akan Mundurkah Kita Sekarang
Seraya Mengucapkan 'Selamat Tinggal Perjuangan'
Berikrar Setia Kepada Tirani
Dan Mengenakan Baju Kebesaran Sang Pelayan?

Spanduk Kumal Itu, Ya Spanduk Itu
Kami Semua Telah Menatapmu
Dan Di Atas Bangunan-Bangunan
Menunduk Bendera Setengah Tiang

Pesan Itu Telah Sampai Kemana-Mana
Melalui Kendaraan Yang Melintas
Abang-Abang Beca, Kuli-Kuli Pelabuhan
Teriakan-Teriakan Di Atas Bis Kota, Pawai-Pawai Perkasa
Prosesi Jenazah Ke Pemakaman
Mereka Berkata
Semuanya Berkata
Lanjutkan Perjuangan



NOVEMBER 
Oleh : Mansur Samin

Seperti Pelancong Larut Dari Perjalanan Jauh 
Dibebani Semua Hasrat Bermakna Mimpi 
Kami Hadir Di November Ini 
Membawa Rahasia Keharusan Untuk Ditanya 
Dekatlah Kemari Ke Denyut Kehidupan Ini 
Dengar, Dari Kerinduan Tanah Air Kami Mulai 
Di Tepi Harapan Sepanjang Malam 
Pertanyaan Makin Tumpul Dalam Diri 
Adakah Kepercayaan Melahirkan Pegangan 
Sedang Pasar, Gudang , Kantor Dan Pabean 
Telah Lam Aluput Tangkapan 
Karena Berlaku Hukum Kediam-Diaman 
Bukan Tidak Percaya Kami Bertanya 
Sebab Kami Cinta Apa Yang Kami Yakini 
Jangan Biarkan Kami Sendiri 
Mengadu Pada Arti November Ini 
Bukankah Bertahun Semua Tarohan Siap Merana 
Untuk Kemenangan Yang Sama Kita Percaya 
Seperti Penanggung Rindu Kami Datang Kesampingmu 
Minta Disingkap Tabir Rahasia Itu 
Tuan-Tuanlah Pengemudi Tanah Air 
Sari Kehidupan Hasrat Mencari 
Datanglah Ke Dapur Kami Ke Baringan Anak-Anak Kami 
Gelap Dan Terang Jelaskan O, Para Budiman 
Dasar Kemerdekaan ! 
Bagaimana Pula Mendiamkan Ini Kenyataan 
Kerna Sarat Oleh Goda Cobaan 
Meri Tegakan Kesini Ke November Ini 
Bersaksi Jasa Dan Nyawa-Nyawa Yang Pergi 
Untuk Kelanjutan Nilai Hari Datang 
Ini Kepercayaan Jangan Tangguhkan Tapi Lajukan 
Sebab Nilai Kenangan Indonesia 
Berakhir Pada Arti Dan Jiwa



INDONESIAKU KINI
Puisi: Awaliya Nur Ramadhana

Negaraku Cinta Indonesia 
Nasibmu Kini Menderita 
Rakyatmu Kini Sengsara 
Pemimpin Yang Tidak Bijaksana 
Apakah Pantas Memimpin Negara 
Yang Aman Sentosa

Oh Indonesia Tumpah Darahku 
Apakah Belum Terbit, 
Seorang Pemimpin Yang Kita Cari 
Apakah Rasa Kepemimpinan Itu 
Masih Disimpan Di Nurani
Tertinggal Di Lubuk Hati 
Tak Dibawa Sekarang Ini 

Rakyat Membutuhkanmu
Seorang Khalifatur Rasyidin 
Yang Setia Dalam Memimpin
Menyantuni Fakir Miskin
Mengasihani Anak Yatim

Kami Mengharapkan Pemimpin 
Yang Soleh Dan Solehah
Pengganti Tugas Rasulullah
Sebagai Seorang Pemimpin Ummah
Yang Bersifat Siddiq Dan Fatanah

Andaikan Kutemukan
Seorang Pemimpin Dunia
Seorang Pemimpin Agama
Seorang Pemimpin Indonesia

Hanya Allah Yang Mengetahuinya



INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU
Puisi: Ahmadun Yosi Herfanda

Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu
Sungguh, Cintaku Suci Dan Murni Padamu
Ingin Selalu Kukecup Keningmu
Seperti Kukecup Kening Istriku
Tapi Mengapa Air Matamu
Masih Menetes-Netes Juga
Dan Rintihmu Pilu Kurasa?

Burung-Burung Bernyanyi Menghiburmu
Pesawat-Pesawat Menderu Membangkitkanmu
Tapi Mengapa Masih Juga Terdengar Tangismu?
Apakah Kau Tangisi Hutan-Hutan
Yang Tiap Hari Digunduli Pemegang Hapeha?
Apakah Kau Tangisi Hutang-Hutang Negara
Yang Terus Menumpuk Jadi Beban Bangsa?
Apakah Kau Tangisi Nasib Rakyatmu
Yang Makin Tergencet Kenaikan Harga?
Atau Kau Sekadar Merasa Kecewa
Karena Rupiahmu Terus Dilindas Dolar Amerika
Dan Imf, Rentenir Kelas Dunia Itu,
Terus Menjerat Dan Mengendalikan Langkahmu?

Ah, Apapun Yang Terjadi Padamu
Indonesia, Aku Tetap Mencintaimu
Ingin Selalu Kucium Jemari Tanganmu
Seperti Kucium Jemari Tangan Ibuku
Sungguh, Aku Tetap Mencintaimu
Karena Itulah, Ketika Orang-Orang
Ramai-Ramai Membeli Dolar Amerika
Tetap Kubiarkan Tabunganku Dalam Rupiah
Sebab Sudah Tak Tersisa Lagi Saldonya!



PAHLAWAN KU
Puisi: Rezha Hidayat

Ohh........ Pahlawan Ku
Bagaimana Ku Bisa
Membalas Jasa-Jasa Mu
Yang Telah Kau Berikan Untuk Bumi Pertiwi

Haruskah Aku Turun Ke Medan Perang
Haruskah Aku Mandi Berlumurkan Darah
Haruskah Aku Tertusuk Pisau Belati Penjajah
Aku Tak Tahu Cara Untuk Membalas Jasa Mu

Engkau Rela Mengorbankan Nyawa Mu
Demi Suatu Kemerdekaan Yang Mungkin 
Tak Bisa Kau Raih Dengan Tangan Mu Sendiri
Ohh......... Pahlawan Ku Engkau Lah Bunga Bangsa



PERJUANGAN TAK PASTI
Puisi: Rhindy Marfiyanti

Teriknya Mentari Menyentuh Kalbu
Tak Terasa Angin Merambah Rasa
Hanya Terasa Peluh Merambah Jiwa

Ku Coba Melangkah Ke Sana
Tak Jua Ku Temukan Suatu Hal
Ku Langkahkan Kembali Kakiku
Tapi Ku Masih Tak Temukan Sesuatu Itu

Saat Ku Berhenti Tuk Bersandar
Ku Memohon Dan Berserah
Apa Aku Di Beri Sebuah Peluang
Tuk Bisa Hidup Nyaman

Oh Tuhan…….
Perjuangan Ini Sungguh Meresahkan
Perjuangan Ini Sungguh Membingungkan
Perjuangan Ini Tak Menemukan Jalan

Kaki Tak Kuat Untuk Melangkah
Jiwa Tak Kuat Untuk Bangun
Hati Tak Sanggup Untuk Merasa
Otak Tak Bisa Untuk Berfikir

Hidupku……….
Kenapa Kau Ditakdirkan Seperti Ini
Hanya Berharap Dari Perjuangan Yang Tak Pasti
Hidup Ini Terasa Sangat Membingungkan



LAGU SERDADU
Oleh : W.S. Rendra

Kami Masuk Serdadu Dan Dapat Senapang
Ibu Kami Nangis Tapi Elang Toh Harus Terbang
Yoho, Darah Kami Campur Arak!
Yoho, Mimpi Kami Patung-Patung Dari Perak
Nenek Cerita Pulau-Pulau Kita Indah Sekali
Wahai, Tanah Yang Baik Untuk Mati
Dan Kalau Ku Telentang Dengan Pelor Timah
Cukilah Ia Bagi Puteraku Di Rumah



LAGU SEORANG GERILYA
(Untuk Puteraku Isaias Sadewa)
Oleh : W.S. Rendra 

Engkau Melayang Jauh, Kekasihku.
Engkau Mandi Cahaya Matahari.
Aku Di Sini Memandangmu,
Menyandang Senapan, Berbendera Pusaka.
Di Antara Pohon-Pohon Pisang Di Kampung Kita Yang Berdebu,
Engkau Berkudung Selendang Katun Di Kepalamu.
Engkau Menjadi Suatu Keindahan,
Sementara Dari Jauh
Resimen Tank Penindas Terdengar Menderu.
Malam Bermandi Cahaya Matahari,
Kehijauan Menyelimuti Medan Perang Yang Membara.
Di Dalam Hujan Tembakan Mortir, Kekasihku,
Engkau Menjadi Pelangi Yang Agung Dan Syahdu
Peluruku Habis
Dan Darah Muncrat Dari Dadaku.
Maka Di Saat Seperti Itu
Kamu Menyanyikan Lagu-Lagu Perjuangan
Bersama Kakek-Kakekku Yang Telah Gugur
Di Dalam Berjuang Membela Rakyat Jelata



GUGUR
Oleh : W.S. Rendra

Ia Merangkak
Di Atas Bumi Yang Dicintainya
Tiada Kuasa Lagi Menegak
Telah Ia Lepaskan Dengan Gemilang
Pelor Terakhir Dari Bedilnya
Ke Dada Musuh Yang Merebut Kotanya
Ia Merangkak
Di Atas Bumi Yang Dicintainya
Ia Sudah Tua
Luka-Luka Di Badannya
Bagai Harimau Tua
Susah Payah Maut Menjeratnya
Matanya Bagai Saga
Menatap Musuh Pergi Dari Kotanya
Sesudah Pertempuran Yang Gemilang Itu
Lima Pemuda Mengangkatnya
Di Antaranya Anaknya
Ia Menolak
Dan Tetap Merangkak
Menuju Kota Kesayangannya
Ia Merangkak
Di Atas Bumi Yang Dicintainya
Belumlagi Selusin Tindak
Mautpun Menghadangnya.
Ketika Anaknya Memegang Tangannya
Ia Berkata :
” Yang Berasal Dari Tanah
Kembali Rebah Pada Tanah.
Dan Aku Pun Berasal Dari Tanah
Tanah Ambarawa Yang Kucinta
Kita Bukanlah Anak Jadah
Kerna Kita Punya Bumi Kecintaan.
Bumi Yang Menyusui Kita
Dengan Mata Airnya.
Bumi Kita Adalah Tempat Pautan Yang Sah.
Bumi Kita Adalah Kehormatan.
Bumi Kita Adalah Juwa Dari Jiwa.
Ia Adalah Bumi Nenek Moyang.
Ia Adalah Bumi Waris Yang Sekarang.
Ia Adalah Bumi Waris Yang Akan Datang.”
Hari Pun Berangkat Malam
Bumi Berpeluh Dan Terbakar
Kerna Api Menyala Di Kota Ambarawa
Orang Tua Itu Kembali Berkata :
“Lihatlah, Hari Telah Fajar !
Wahai Bumi Yang Indah,
Kita Akan Berpelukan Buat Selama-Lamanya !
Nanti Sekali Waktu
Seorang Cucuku
Akan Menacapkan Bajak
Di Bumi Tempatku Berkubur
Kemudian Akan Ditanamnya Benih
Dan Tumbuh Dengan Subur
Maka Ia Pun Berkata :
-Alangkah Gemburnya Tanah Di Sini!”
Hari Pun Lengkap Malam
Ketika Menutup Matanya



GERILYA
Oleh : W.S. Rendra

Tubuh Biru
Tatapan Mata Biru
Lelaki Berguling Di Jalan
Angin Tergantung
Terkecap Pahitnya Tembakau
Bendungan Keluh Dan Bencana
Tubuh Biru
Tatapan Mata Biru
Lelaki Berguling Dijalan
Dengan Tujuh Lubang Pelor
Diketuk Gerbang Langit
Dan Menyala Mentari Muda
Melepas Kesumatnya
Gadis Berjalan Di Subuh Merah
Dengan Sayur-Mayur Di Punggung
Melihatnya Pertama
Ia Beri Jeritan Manis
Dan Duka Daun Wortel
Tubuh Biru
Tatapan Mata Biru
Lelaki Berguling Dijalan
Orang-Orang Kampung Mengenalnya
Anak Janda Berambut Ombak
Ditimba Air Bergantang-Gantang
Disiram Atas Tubuhnya
Tubuh Biru
Tatapan Mata Biru
Lelaki Berguling Dijalan
Lewat Gardu Belanda Dengan Berani
Berlindung Warna Malam
Sendiri Masuk Kota
Ingin Ikut Ngubur Ibunya



DOA SEORANG SERDADU SEBELUM PERANG
Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
Wajahmu Membayang Di Kota Terbakar
Dan Firmanmu Terguris Di Atas Ribuan
Kuburan Yang Dangkal
Anak Menangis Kehilangan Bapa
Tanah Sepi Kehilangan Lelakinya
Bukannya Benih Yang Disebar Di Bumi Subur Ini
Tapi Bangkai Dan Wajah Mati Yang Sia-Sia
Apabila Malam Turun Nanti
Sempurnalah Sudah Warna Dosa
Dan Mesiu Kembali Lagi Bicara
Waktu Itu, Tuhanku,
Perkenankan Aku Membunuh
Perkenankan Aku Menusukkan Sangkurku
Malam Dan Wajahku
Adalah Satu Warna
Dosa Dan Nafasku
Adalah Satu Udara.
Tak Ada Lagi Pilihan
Kecuali Menyadari
-Biarpun Bersama Penyesalan-
Apa Yang Bisa Diucapkan
Oleh Bibirku Yang Terjajah ?
Sementara Kulihat Kedua Lengamu Yang Capai
Mendekap Bumi Yang Mengkhianatimu
Tuhanku
Erat-Erat Kugenggam Senapanku
Perkenankan Aku Membunuh
Perkenankan Aku Menusukkan Sangkurku



DIPONEGORO
Oleh: Chairil Anwar

Di Masa Pembangunan Ini
Tuan Hidup Kembali
Dan Bara Kagum Menjadi Api

Di Depan Sekali Tuan Menanti
Tak Gentar. Lawan Banyaknya Seratus Kali.
Pedang Di Kanan, Keris Di Kiri
Berselempang Semangat Yang Tak Bisa Mati. Maju…

Ini Barisan Tak Bergenderang-Berpalu
Kepercayaan Tanda Menyerbu.

Sekali Berarti
Sudah Itu Mati. Maju…

Bagimu Negeri
Menyediakan Api.

Punah Di Atas Menghamba
Binasa Di Atas Ditindas
Sesungguhnya Jalan Ajal Baru Tercapai
Jika Hidup Harus Merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang



TENTANG KEMERDEKAAN
Oleh : Toto Sudarto Bahtiar

Kemerdekaan Ialah Tanah Air Dan Laut Semua Suara 
Janganlah Takut Kepadanya
Kemerdekaan Ialah Tanah Air Penyair Dan Pengembara 
Janganlah Takut Padanya
Kemerdekaan Ialah Cinta Salih Yang Mesra 
Bawalah Daku Kepadanya 



PAHLAWAN TAK DIKENAL
Oleh : Toto Sudarto Bahtiar

Sepuluh Tahun Yang Lalu Dia Terbaring 
Tetapi Bukan Tidur, Sayang 
Sebuah Lubang Peluru Bundar Di Dadanya 
Senyum Bekunya Mau Berkata, Kita Sedang Perang
Dia Tidak Ingat Bilamana Dia Datang 
Kedua Lengannya Memeluk Senapang 
Dia Tidak Tahu Untuk Siapa Dia Datang 
Kemudian Dia Terbaring, Tapi Bukan Tidur Sayang
Wajah Sunyi Setengah Tengadah 
Menangkap Sepi Padang Senja 
Dunia Tambah Beku Di Tengah Derap Dan Suara Merdu 
Dia Masih Sangat Muda
Hari Itu 10 November, Hujan Pun Mulai Turun 
Orang-Orang Ingin Kembali Memandangnya 
Sambil Merangkai Karangan Bunga 
Tapi Yang Nampak, Wajah-Wajahnya Sendiri Yang Tak Dikenalnya
Sepuluh Tahun Yang Lalu Dia Terbaring 
Tetapi Bukan Tidur, Sayang 
Sebuah Peluru Bundar Di Dadanya 
Senyum Bekunya Mau Berkata : Aku Sangat Muda